Waktu yang di Nanti
“Ayo...! kurang 3 menit lagi!” sepert biasa, Pak Irfandi, satpam SMA 25
sudah stand by didepan gerbang dengan teriakan khasnya. “Ayo.. Putih Abu-Abu..”
lanjutnya.
“Bapak
tunggu..!” tak jauh dari tempat Pak Irfandi berdiri, tampak seorang cewe
berlari sambil berteriak heboh. Gerbang sudah hampir terutup rapat, untung saja
dengan tubuh mungilnya dia bisa dengan mudah menyelinap masuk.
“Oh.. kamu itu!
Ayo cepat masuk!” bentak Pak Irfandi hendak menjitak namun tdak berhasil.
“Duh Pak,
jangan marah-marah, ntar cepet tua lho.” Reyna masih saja sempat bercanda.
Sebelum kena semprot lagi, dengan cepat dia berlari melesat menuju kelasnya.
Ya, dia bernama Reyna. Cewek imut yang
sangat aktiv keturunan Indo-Jepang yang paling suka tentang Korea. Mulai dari
poster, majalah, video, profil, sudah terkumpul rapi di laptop dan kamarnya.
Dan satu lagi, i-pod yang penuh dengan lagu k-pop yang selalu dia bawa
kemana-mana.
Mungkin saat ini keberuntungan masih
beada digeggamannya. Pak Hartoyo, guru Fisika yang killer abis sejagat raya
lengkap dengan kumis Pak Radennya, yang saat ini harus mengisi kelasnya di jam
pertama dan kedua ternyata belum datang.
“Annyeonghaseyo Neysa...! pagi ini indah banget yaa!” sesampainya
dikelasnya dengan semangat 45 ia langsung menghambur kearah si cantik Neysa,
sobatnya yang juga sebangku dengannya.
“Ampun deh Rey.
Lo bikin gue kaget aja!” Neysa sejenak menghela napas. “Untung aja lo
masuk,udah merinding nih gue byangin
duduk sendirian di ajar Pak Hartoyo. Bisa mati berdiri ntar.” lanjutnya. Inilah
si feminin Neysa, sahabat Reyna yang ceriwis abis tapi asyik dan pastinya setia
kawan. Kalau mereka berdua udah gabung, pasti gak bisa diem.
“Haaha.. Ababil
lo! Tenang aja lagi. Nih malaikat penolong lo udah ada di sini.” Jawab Reyna
narsis.
“Yee.. pd abis!
Udah telat juga, masih aja bisa ngaco kmana-mana. Ada apa sih? Kog kaya’nya
seneng banget hari ini.” Tanya Neysa ingin tahu. “Pasti deh ada apa-apa.”
“Selamat pagi anak-anak.” Belum lagi
Reyna memulai ceritanya, Pak Hartoyo sudah masuk kelas. Suasana kelas yang
sebelumnya tak jauh beda seperti pasar, seketika tenang. “Pagi Pak..”
“Buka halaman
75, kita kan melanjutkan pembahasan bab Gerak.” Lanjut Pak Hartoyo memberikan
perintah.
Semua siswa sibuk dengan buku paketnya masing-masing.
Terkecuali dua anak yang duduk di bangku baris ketiga dekat pintu. “Ntar
sore..” Reyna segaja menggantungkan kalimatnya agar Neysa semakin penasaran.
“Kelamaan nih,
cepetan!” desak Neysa.
“Ntar sore.. gue pergi ke konser 2PM!” ucap Reyna dengan suara tertahan karena dia masih sadar ia berada di kelas. Namun meskipun begitu matanya tetap bersinar, mengalahkan sinar mentari.
“Ntar sore.. gue pergi ke konser 2PM!” ucap Reyna dengan suara tertahan karena dia masih sadar ia berada di kelas. Namun meskipun begitu matanya tetap bersinar, mengalahkan sinar mentari.
Karena merasa di awasi, Neysa tak
lagi berbicara. Dia membuka buku catatan Fisikanya dan menulis sesuatu,
kemudian dengan gerakan yang sebisa mngkin tidak mencurigakan, dia geser
bukunya kearah Reyna.
“Nggak pernah berubah yaa. Selamat deh cita-cita lo
ketemu Taecyeon Oppa bakalan terkabulkan.”
Sekilas tampak Reyna tersenyum ketika menerimanya dan senyumnya
bertambah lebar setelah membacanya. Sambil pura-pura memperhatikan pelajaran
Pak Hartoyo dengan gaya menyalin catatan di whiteboard, Reyna menuliskan
jawaban surat Neysa.
“Iya... udah gak
sabar nih ! jam 3 lama banget yaa!?” Tampak tulisan
Reyna kecil-kecil berjajar rapi. Segera dia geser buku Neysa.
“Gue diajak gak nih?” Tanya Neysa berbisik saat Pak Harto membelakangi mereka untuk menulis.
“Lo kan gak suka k-pop. Ni aja gue ditraktir.” Reyna ikut berbisik.
“Gue diajak gak nih?” Tanya Neysa berbisik saat Pak Harto membelakangi mereka untuk menulis.
“Lo kan gak suka k-pop. Ni aja gue ditraktir.” Reyna ikut berbisik.
“ Sama spa emang? Baik
banget..” Neysa menulis
lagi, karena Pak Harto sudah mulai menjelaskan kembali.
“Sama Nicky”
Neysa tersenyum membacanya. Seketika dia menoleh ke arah Reyna dengan tatapan mencurigakan. “Udah jadian?” katanya tanpa suara. Reyna melotot ke arahnya. Segera dia rebut buku tulis Fisika Neysa dan menuliskan sesuatu.
“Gak lah.. Gwe kan setia sama Taecyoen Oppa :D” Neysa cekikikan membaca jawaban sobatnya
Nicky adalah kapten tim basket yang sangat populer di SMA 25. Dia tercatat sebagai salah satu siswa XI IPA 1 yang cukup berprestasi yang sudah sejak lama menaruh hati pada Reyna.
Tiap kali Neysa bertanya tentang hubungannya dengan Nicky, Reyna selalu menjawab begitu. Pernah suatu ketika saat mereka menonton Nicky latihan, Neysa bertanya “Kurang apa sih Rey, Nicky di mata lo? Udah perfect gitu masih aja dicuekin. Kalau gue jadi lo, udah gue gebet dari dulu. Kapan lagi coba punya kesempatan jad pacar Super Star!”
“Sama Nicky”
Neysa tersenyum membacanya. Seketika dia menoleh ke arah Reyna dengan tatapan mencurigakan. “Udah jadian?” katanya tanpa suara. Reyna melotot ke arahnya. Segera dia rebut buku tulis Fisika Neysa dan menuliskan sesuatu.
“Gak lah.. Gwe kan setia sama Taecyoen Oppa :D” Neysa cekikikan membaca jawaban sobatnya
Nicky adalah kapten tim basket yang sangat populer di SMA 25. Dia tercatat sebagai salah satu siswa XI IPA 1 yang cukup berprestasi yang sudah sejak lama menaruh hati pada Reyna.
Tiap kali Neysa bertanya tentang hubungannya dengan Nicky, Reyna selalu menjawab begitu. Pernah suatu ketika saat mereka menonton Nicky latihan, Neysa bertanya “Kurang apa sih Rey, Nicky di mata lo? Udah perfect gitu masih aja dicuekin. Kalau gue jadi lo, udah gue gebet dari dulu. Kapan lagi coba punya kesempatan jad pacar Super Star!”
“Dasar alay ya
lo...!” Reyna menjitak kepala Neysa pelan. Gemes juga jadinya sama ni anak.
“Orangnya aja fine-fine aja, kok jadi lo yang repot! Sebandel-bandelnya gue,
kalo disuruh milih pacar atau belajar, gue pilih belajar lah!”
Tidak hanya
Neysa, teman-teman di sekelilingnya juga ikutan heboh meledekinya.
“Have Fun yaa..” itulah tulisan terakhir Neysa sebelum muai
memperhatikan penjelasan Pak Hartoyo. Dan Reyna pun memberikan senyuman
termanisnya buat Neysa.
Gedung Senayan tampak lebih ramai dibandingkan
hari-hari biasanya. Diantara kerumunan orang-orang yang mayoritas remaja,
tampak seumuran anak SMA cewe dengan style santai tapi terkesan elegan dan
disampingnya terdapat cowok seumuran dengannya dengan balutan hem hitam dengan
bawahan jins dengan warna senada.
“Ullyeo
peojineu eumage matchwo
Everyone
put your hand up and get your drink up
Or sesagi
hamkke michyeo
Everyone
put your hand up and get your drink up
Now, put
your hand up, put your hand up, put...”
Mereka tampak asyik menikmati 2PM menyanyikan lagu Hand
Up-nya. Terlebih si cewek, ia tampak begitu bahagia. Ia gerakkan tubuhnya
mengikuti alunan lagu kesukaannya itu. Ya, tak lain mereka adalah Reyna bersama
Nicky. Lagu Hand Up usai dan dilanjutkan dengan Take Off.
“Duh, Taecyeon Oppa cakep banget sih!” mata Reyna
tak henti-hentinya bersinar memandang Taecyeon yang sedang ngedance.
“Cakepan juga gue.” Nicky yang berada tepat disampingnya
menyahuti santai.
“Yee.. Narsis..!”
Nicky hanya tersenyum. “Mau dikasihin Taecyeongak nih tuh
kado?” tanya Nicky sambil melirik kado yang sedari tadi berada digenggaman
Reyna.
“So pasti..” jawab Reyna semangat.
“Ya udah ayo! Ntar keburu gak dapet tempat.” Dan
merekapun berjalan beriringan mendekati panggung, karena sebentar lagi akan di
lanjutkan dengan acara berikutnya. Yapz, jumpa Fans.
“Oppa Saranghae...!” teriak Reyna bersemangat sambil menyerahkan kadonya
kearah Taecyeon berdiri.
“Gumawo yeodong
saeng.” Jawab Taecyeon menerina kado Reyna dengan senyuman menawanya. Reyna
terasa melayang dan reflek menahan napas bisa melihat langsung dengan jelas
senyuman maut Taecyeon. Merekapun berbincang-bincang dan tak lupa berfoto
bersama.
“REYNA !!” alunan music k-pop dari
i-pod Reyna lenyap seketika digantikan dengan gebrakan meja yang sangat
dahsyat. Detak jantung Reyna berhenti sedetik. Dia masih syok. Pak Hartoyo
sudah berdiri di depanya dengan tampang angkernya. Di tambah lagi i-pod
kesayangannya sudah berpindah tangan.
“Aduh!” batin
Reyna sambil menunduk dan memukul kepalanya sendiri.
“Kamu sudah
tidak memperhatikan pelajaran, malah asyik melamun dengerin i-pod!” Reyna
tertunduk ketakutan. Neysa pun tak kalah tegang. Dirasakannya tangan Reyna yang
sedingin es udah menggenggam erat tangan kanannya.
“Sebagai
hukuman, kamu harus meresum 3 bab sekaligus setelah bab ini dan harus selesai
hari ini juga! Baru setelah itu kamu bisa mengambil i-pod kamu!”
“Bapak klejam
banget. Diturunin dong Pak hukumannya. Ntar saya telat datang ke konser.” Pinta
Reyna memelas.
“Baru tau kamu!
Memang saya penjual sayur pake’ ditawar segala. Itu salah kamu sendiri tidak
memperhatikan pelajaran!”
Dan seisi
kelaspun heboh.
-----
“Lo juga sih cari gara-gara, udah tau Pak Hartoyo
serem gitu masih sempet-sempetnya dengerin i-pod.” Ucap Neysa disela-sela
membantu Reyna meresum saat istirahat.
“Khilaf Ney. Terus gimana nih? Gue bisa telat ntar.”
Jawab Reyna dengan nada menyesal dan khawatir.
Neysa hanya tersenyum. “Tenang aja! Pasti kelar kok, gue
bantuin deh sampek selesai.”
“Yang bener?” Neysa menganggukkan kepalanya.
“Lo gak lagi bercanda kan?!” Reyna memastikan.
“Iyaa…!! Gak percaya banget sama gue.” Neysaa jadi kesal
juga. Ia cubit kedua pipi Reyna gemas.
“Arigatou gozaimasu.. You’re really my best friend!”
Reyna girang sambil memeluk erat Neysa. Dan Neysa pun membalas pelukan sobatnya
itu.
-----
“Akhirnya
kelar juga!” ucap Reyna lega ketika keluar dari ruangan Pak Hartoyo.
“Gue bilang juga apa, pasti bisa! Gimana i-podnya? Dah
balik kan?” Neysa merangkul pundak Reyna.
“Udah dong!” jawab Reyna sambil memperlihatkan i-podnya.
“Thanks banget yaa.”
“Siip.. biasa aja kali. Kaya’ sama siapa aja lu.”
Reyna hanya tersenyum sambil melirik jam tangan biru
berbentuk bintang kesayangannya ditangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul
14.50 WIB.
“Ayo Nick, dah mepet nih.” Ajak Reyna membuyarkan
lamunan Nicky yang sedari tadi bersandar di tiang koridor.
“Oh, eh.. sorry kenapa Rey?” Nicky gelagapan.
“Kita jadi berangkat kan?” Tanya Reyna memastikan.
”Emm…” Nicky garuk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak
gatal.“Gimana cara ngomongnya nih?” batinnya.
Reyna dan Neysa diam menunggu jawaban Nicky.
“Ayo Nick, ntar keburu telat.”
“Emm.. Sorry banget Rey. Lo jangan marah ya.” Nicky mulai
berkata. Reyna mengerutkan alisnya.
“… tiba-tiba di Korea cuaca buruk, jadi gak memungkinkan
pesawat Take Off. Jadi otomatis konsernya diundur sampai besok. Ta-“
“APA..!” belum lagi Nicky menyelesaikan ucapannya, Reyna
sudah berteriak histeris.
“Ney..” Reyna mulai berkaca-kaca. Neysa sendiri bingung
mau gimana kalo begini. Nicky jadi serba salah. Dia gak tega liat reaksi Reyna.
“Tapi lo tenang aja Rey, besok kan hari minggu.
Kita jadi lebih santai. Besok gue jemput pagi-pagi deh, kita bisa jalan-jalan
dulu sebelum lihat konser. Gimana?” Nicky melanjutkan kata-katanya yang sempat
terputus tadi.
“Iya tuh Rey. Lo kan udah lama gak jalan-jalan. Pasti
seru abis deh besok.” Neyna menambahi.
“Makasih, tapi kalian gak perlu hibur gue. Mungkin hari
ini emang hari sial gue.” Reyna memaksakan senyum, namun air matanya mulai
menetes. Dengan cepat ia menghapusnya. Ia tampak menghembuskan napas sebelum
berkata “Gue capek banget hari ini. Gue pulang duluan yaa..”
Nicky dan Neysa hanya berdiri terpaku. Belum
pernah mereka melihat Reyna sedih seperti itu. Sangat berbeda dengan Reyna yang
ceria di setiap harinya.
Reyna membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan
kanannya. Ia berjalan pelan dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
Pandangannya mulai buram dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Samara-samar dia
mendengar Nicky dan Neysa memanggil namanya dengan nada panik.
“Dia belum makan siang Ney?” Tanya Nicky panik sambil
menggendong Reyna menuju parkiran mobil.
Neysa menggeleng disampingnya dengan tas selempang Reyna
ditangannya. “Kita terlalu sibuk ngresum Fisika.”
-----
“Makasih
yaa.. udah mau gendong gue sampai mobil. Ayo.. buruan kita cari makan. Udah
laper banget nih gue!”
Nicky dan Neysa terpaku dengan apa yang sedang mereka
alami.
“Lo gak pingsan beneran tadi? Lo bohongin kita? Parah lo
Rey, kasian tau Nicky capek-capek gendong lo dari kantor sampek sini.” Neysa
segera menyerbu Reyna dengan segerombol pertanyaan yang ada dipikirannya ketika
tersadar.
“Sorry banget deh.. terutama lo Nick.” Ucap Reyna dengan
tatapan bersalah. “Sebenernya gue gak beneran pingsan, cuma lemes aja. Tau
Nicky langsung gendong gue, ya gue terusin aja, kan nanggung! Abis gue kesel
banget.” Lanjutnya dengan wajah bete.
“Jangan marah yaa Nick..” Reyna memandang Nicky dengan
mimik muka yang diimut-imutkan berharap Nicky tidak marah padanya.
Sejenak kemudian Nicky menghela napas dan tersenyum
manis. “Dasar ya lo.. udah puas buat gue panik?!” akhirnya Nicky ngomong juga.
Dia mengacak-acak rambut cewek yang disayanginya itu.
Reyna tersenyum lebar, lalu merapikan rambutnya dengan
muka bete yang dibuat-buat.
“Terus
tadi bohongan juga nangisnya? Wah! Bakat jadi artis
Reyna mencubit lengan Nicky. “Ah.. sakit tau.” Reyna tak
menggubrisnya.
“Nggak lah! Gue beneran patah hati gak bisa ketemu
Taecyeon Oppa hari ini. Apalagi udah banyak banget rintangan yang gue lewati.
Gue hampir telat tadi gara-gara bangun kesiangan soalnya malemnya gue gak bisa
tidur sibuk bayangin gimana ketemu sama Taecyeon ntar. Terus i-pod gue disita
juga karena nglamunin Taecyeon, udah gitu gue dihukum ngresum lagi.” Reyna
cuap-cuap dan akhirnya berhenti juga.
“Jadi..? Kenapa tadi masih nangis aja, pake acara
bohongin kita lagi.” Neysa meminta penjelasan Reyna sambil berkacak pinggang.
“Yah, habis gue pikir-pikir ngapain juga gue nangis alay
gara-gara gak bisa ketemu Taecyeon Oppa. Kan besok bisa! Tapi wajar aja kan
kalo gue tadi sempet syok. Gue bisa nangis alay kalo kalian gak kasih gue makan
sekarang. Gue laper...!!” jawab Reyna dengan wajah tanpa dosa.
Neysa dan Nicky hanya bengong.
“Kapan lo mikir?” tiba-tiba ucapan itu yang keluar dari
mulut Nicky.
“Ya tadi waktu lo gendong. Kan lama tuh, jadi gue bisa
mikir dengan kepala dingin deh.” Jawab Reyna santai.
“Wah.. gila! Parah abis lo..!!” segera Nicky dan Neysa
menyerbu Reyna. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran mengeilingi mobil Nicky.
“Hahaha..” terdengar Reyna tertawa puas.
Kalo Reyna ditanya “Apakah
ketemu Taecyeon adalah waktu yang dinantinya selama ini?” itu akan menjadi
jawaban keduanya, yang paling utama ialah waktu dimana ia bisa tertawa
lepas dan menangis bersama dua orang
yang sangat berarti di dunia SMA-nya. :D
Zaidatul ilmi
XI-IPA3
No comments:
Post a Comment